NAFAZNEWS.COM - Kehadiran staf khusus (Stafsus) Presiden Joko Widodo dari kalangan milenial dianggap lebih banyak mudhorotnya dibanding manfaat bagi masyarakat Indonesia.
Direktur Eksekutif Center for Social Political Economic and Law Studies (Cespels), Ubedilah Badrun mengatakan, surat yang dibuat oleh Stafsus Presiden, Andi Taufan Garuda Putra kepada camat seluruh Indonesia merupakan tindakan penyalahgunaan wewenang.
"Itu abuse of power. Penyalahgunaan wewenang. Menggunakan fasilitas negara dan akses negara untuk kepentingan perusahaan pribadinya. Secara moral apa yang dilakukan Andi Taufan itu pelanggaran etis berat di area kekuasaan," ucap Ubedilah Badrun kepada Kantor Berita Politik RMOL, Rabu (15/4).
Sehingga, kata Ubedilah, jika Andi Taufan memahami etika politik seharusnya mundur dari istana.
Direktur Eksekutif Center for Social Political Economic and Law Studies (Cespels), Ubedilah Badrun mengatakan, surat yang dibuat oleh Stafsus Presiden, Andi Taufan Garuda Putra kepada camat seluruh Indonesia merupakan tindakan penyalahgunaan wewenang.
"Itu abuse of power. Penyalahgunaan wewenang. Menggunakan fasilitas negara dan akses negara untuk kepentingan perusahaan pribadinya. Secara moral apa yang dilakukan Andi Taufan itu pelanggaran etis berat di area kekuasaan," ucap Ubedilah Badrun kepada Kantor Berita Politik RMOL, Rabu (15/4).
Sehingga, kata Ubedilah, jika Andi Taufan memahami etika politik seharusnya mundur dari istana.
"Ini soal moralitas politik pegawai istana yang buruk. Jika dia memahami etika politik harusnya tidak cukup minta maaf tetapi mundur dari Istana," tegas Ubedilah.
Bahkan, Ubedilah pun mengaku mencermati adanya stafsus presiden dari kalangan milenial yang lebih banyak menimbulkan masalah di hadapan publik.
"Saya mencermati stafsus milenial di istana ini kok terlihat di publik lebih banyak menimbulkan masalah ya dibanding manfaat. Jika mudhoratnya lebih banyak daripada manfaatnya sebaiknya stafsus milenial ini ditinjau ulang atau bahkan dibubarkan saja," terang Ubedilah.
Karena kata analis sosial politik Universitas Negeri Jakarta (UNJ) ini, jika Presiden Joko Widodo tetap mempertahankan Stafsus maka kehadiran stafsus milenial semakin memperlihatkan hanya sebagai gimmick politik Jokowi.
Karena kata analis sosial politik Universitas Negeri Jakarta (UNJ) ini, jika Presiden Joko Widodo tetap mempertahankan Stafsus maka kehadiran stafsus milenial semakin memperlihatkan hanya sebagai gimmick politik Jokowi.
"Kalau tetap dipertahankan itu berarti kehadiran mereka lebih terlihat hanya sebagai gimmick politik presiden. Bagian dari simulacra politik Presiden," pungkas Ubedilah.
Artikel ini telah tayang di Rmol.id
Artikel ini telah tayang di Rmol.id
Posting Komentar untuk "Ubedilah Badrun: Jika Masih Dipertahankan, Kehadiran Stafsus Milenial Hanya Gimmick "
Berkomentarlah yang bijak dan bagikan jika bermanfaat